Kamis, 07 Agustus 2008

This Isn't What We Want

Sewaktu g kecil, sewaktu g belum mengetahui bahwa hidup ini adalah mengenai pilihan, dan bahkan setelah g mengetahui hal tersebut saat g beranjak dewasa, g tidak menyangka bahwa jalan di dunia ini penuh persimpangan dan di antara persimpangan itu tidak ada yang menuju ke arah 'Abstain'. Kalau dulu, serasa semua pasti bisa g jalani, bisa g pilih, bisa g putuskan, atau kalau g nggak bisa, biar Tuhanlah yang melempar kartu di jalan g, maka semua akan beres. Itu dulu. Sekarang, pada akhirnya kenyataan membuka mata g terhadap hidup yang sebenarnya.

Semakin jauh jalan yang g tempuh, semakin berat soal-soal ujian yang harus g kerjakan. Kalau di ujian sekolah, g bisa memilih untuk mengerjakan yang gampang dulu baru yang susah, kalau yang susah nggak bisa g kerjakan maka soal itu bisa g skip, nggak akan g kerjakan sama sekali, dan kalau hasilnya jelek, ya sutralah, what the heck. Tetapi dalam ujian hidup sebenarnya, g mau tidak mau harus menjawab semua soal yang ada, kalau mau skip salah satu soal ujian, hanya bisa dilakukan kalau..mati.

Jawab...atau mati. Jawab...atau mati? Jawab...atau mati! Jawab...atau mati??!!??

Nah, pilih yang mana?

Walaupun ada saat-saat di mana setelah g harus memilih, untuk sedetik, g merasa lebih baik mati. Bagai memakan buah simalakama, pilihan manapun yang harus g pilih sama-sama membuat g harus berlutut menangis. Tapi, seperti yang dikatakan banyak orang ke g, perasaan lebih-baik-mati itulah yang membuktikan bahwa kita masih hidup. Welcome to reality, girl. Dan perasaan nelangsa inilah yang g alami saat g harus mengambil pilihan antara meninggalkan atau tetap tinggal... dari sisi temen baik g.

He is, I believe, the angel God had sent to me. Cerita g sama dia bermula di bulan-bulan pertama g kerja di tempat baru. Begitu stress-nya g sampai g teriak minta tolong ke Tuhan agar Dia memberikan g kekuatan untuk melewati semua tekanan itu, atau kalau boleh, jatuhin remote kontrol yang ada di film Click itu ke kepala g supaya g bisa pingsan dan begitu sadar g udah ada di kutub utara lagi foto-foto sama Beruang Kutub (one of my obsession that i WILL do). Tapi remote kontrol itu hanyalah mimpi dan, seperti yang sering kali terjadi, untuk mengerti jawaban dari-Nya, g selalu harus menunggu,..kemudian melihat ke belakang. Dengan cara itulah g tahu bahwa dialah penolong yang dikasih Tuhan buat g.

Nggak mungkin g bisa bertahan di kantor g kalau nggak ada dia yang selalu sabar menolong g, bikin g ceria setelah g ditiban sama tatapan bos-bos g, selalu membela g waktu g ditusuk-tusuk sama temen g sendiri, dan dia juga yang selalu percaya (dan mungkin satu-satunya) sama g kalau g tuh BISA. Karena itu, saat dia bilang he has some special feeling for me, g nggak melarikan diri seperti banshee seperti yang selalu g lakukan dalam situasi yang sama, tetapi g malah minta sama dia untuk tetap di sisi g...sebagai sahabat.

Setelah g pikir hubungan di antara g dan dia sudah jelas, ternyata dia malah semakin memberikan banyak hal, yang menurut g nggak layak g dapatkan, karena g nggak bisa membalas semua itu lebih dari kapasitas seorang teman baik. Terus menerus seperti itu, semakin hari semakin bertambah, dan tibalah juga saat-saat di mana g nggak bisa tidur karena memikirkan dia dan betapa hati g sakit karena, sungguh, g nggak mau berpisah dari dia tapi g juga sama sekali nggak punya perasaan seorang-cewek-kepada-cowok sedikit pun ke dia. Apakah g terpaksa harus melepas dia supaya dia bisa terbang bebas? Apa yang harus g lakukan agar tidak menyakiti hati dia atau paling tidak bisa meminimalisir...? Adakah win-win solution for both of us? Oh man, I always hate this situation. Seorang cewek tuh butuh tidur minimal 8 jam sehari dan sebelum jam 10 malam untuk menjaga kecantikan! Bukan tidur jam 1 pagi dan harus bangun jam 5 !!!

Akhirnya saatnya tiba juga untuk memilih. G udah terlalu sesak napas membiarkan ini berlarut-larut, dan pada kenyataannya, cara apapun yang udah g coba nggak berhasil. Now there is nothing left except for one. G harus pergi. Hanya dengan begitu dia bisa bebas. Demi kebaikan dia, demi kebaikan g. Terlalu naif kalau g bilang ini adalah win-win solution untuk berdua karena g dan dia sama-sama sakit. Karena siapa yang mau kehilangan sahabatnya? Jelas bukan g. Actually I want to hold your hand and say, 'Don't leave me'. Tapi inilah pilihan yang terbaik yang ada di soal multiple choice g..

Kali ini, g nggak akan minta maaf, seperti yang selalu g lakukan setiap kali dia mengharapkan lebih dan g nggak bisa memberikannya. G selalu minta maaf karena g mengerti rasa sakit itu. Tapi kali ini kata-kata itu tidak akan keluar dari mulut g lagi. I have to say good bye, and believe me, sorry is never enough to say how thankfull I am to have you in my life..

God..bless him. Please.

2 komentar:

-'moRis- mengatakan...

Nenek...ini cerita tentang apa se'?
gw 'g ngerti ={

Unknown mengatakan...

I don’t know if it’s me u’re talking about.. but if it’s me then I will not break my promise as I wrote in ur b’day card… I don’t know how.. I don’t know when but I will survive through this miserable feeling.. just give me time..

And when that time comes.. I promise I will become ur angel again.. and also your Best Friend..