G pernah baca satu quote yang membuat g ketawa. Quote-nya berbunyi: "Keluarga, gurita tersayang. Dan kita tidak dapat benar-benar terlepas dari tentakelnya. Namun dalam lubuk hati kita, kita tak pernah benar-benar ingin lepas." Baca itu, g jadi inget sama semua pertengkaran-pertengkaran g sama Dad-Mom g dan sama ade g. Dan betapa ada saat-saat di mana rasanya g pengen banget keluar dari rumah.
Dari adik g yang selalu judes dan bertingkah sampe orang tua g yang, well, menurut g, diktator. Bahkan, semakin lama semakin sering g sama orang tua g berantem semakin pula g merasa kalau g ini sama sekali tidak dianggap seorang individu. Seorang manusia. Bahkan seorang anak. Begitu besar kemarahan g sama mereka sampai-sampai g berdoa sama Tuhan, "ya Tuhan, tolong jangan biarkan aku membenci orang tuaku. Mampukan aku memaafkan mereka...". Bisa dibayangkan? Kami ini sebenarnya keluarga yang tidak memiliki masalah yang terlalu besar seperti masalah-masalah yang ada di sinetron atau infotainment (alias masalah yang kalau kita denger, kita bakal angkat alis terus bilang, "what a drama."), masalah kami sebenarnya hanya ada di dalam perbedaan cara pandang. G, orang yang nggak pernah ketinggalan kata "Kenapa?" dalam g memandang dunia VERSUS orang tua g yang menganut paham "Jangan pernah tanya kenapa! This is the only way!!". Yah ga bakal nyambung tokh Mbok.
Parahnya, nggak ada yang mau ngalah.
But you know what?
I love them.
Buat g, orang tua g adalah orang tua yang paling perfect sedunia. Kalau g denger cerita orang lain atau menyaksikan kejadian dengan orang tua orang lain, bukannya menyombongkan diri, g selalu merasa bersyukur sama Tuhan karena telah melempar g ke keluarga g sekarang. G tahu betapa orang tua g sayang sama g. G sadar betapa g nggak akan pernah mau kehilangan mereka. Dan buat g, they are my everything.
Dan adik g yang super centil...huahahahaha... . Well, can't complain. Walaupun beda umur g sama tu makhluk centil lebih dari 5 tahun, she is definitely my twin sistah.
I love them so much.
Dan justru berantem itu, setelah g renungkan, bagaikan obat yang dibutuhkan buat keluarga g untuk lebih saling mengenal..dan saling merasa beruntung karena telah memiliki satu sama lain. Jadi keliatan kalo doa yang tadi g bilang g ucapkan ternyata hanya reaksi emosi g waktu berantem sama mereka. Dan untungnya, Tuhan, selalu dan selalu dan selalu, membuat g bisa melihat lagi betapa beruntungnya g memiliki 'seekor' gurita yang begitu ... terasa seperti rumah. Karena kemanapun g kabur, pada akhirnya g pasti selalu kangen sama masakan Mom-i g yang itu-itu doang, bau kentut Dad-i g, dan cicitan ade g kalo g ngilangin jepitan rambut dia..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar