Kalau datang ke kantor naek kendaraan umum, g selalu turun di Tosari. Dari situ, g harus jalan sekitar..ng…g ga ngerti ukuran jarak begitu sih, tapi mungkin, berpatokan pada jarak dari pintu gerbang perumahan g ke mesjid di bagian belakang itu 300 meter, maka itu sekitar..100-an meter lah.
Nah, di saat g sedang menikmati perjalanan, mata g menangkap sesuatu. Celana seorang wanita. Kalau tampak belakang, pengena…hmmm…kata ganti orang buat ‘orang yang mengenakan’, adalah pengena bukan? Yah, sekali lagi, kalau tampak belakang, pengena celana itu rada gemuk dan ibu-ibu dan keturunan Tionghoa.
Pertama-tama, celana jeans pas selutut yang dia pake itu mengingatkan g pada celana jeans selutut g yang males banget g pake karena ga nyaman dan ga cocok sama baju manapun, bahkan baju tidur, menurut g sih. Berhubung celana itu dikasih free ke g dan I’d like to keep my options open, yah g simpen aja tu celana, siapa tau g bisa pake itu untuk, misalnya, bermain sandiwara.
Bedanya celana ibu itu dengan celana g adalah pada motifnya, kalo g punya simple banget, cuma dikit ada rajutan bunga di bagian kantong, sedangkan ibu itu, ng, maafkan aku ibu, norak. Celana itu tipe jeans yang nge-press dan bermotif rajutan manik-manik di bagian lutut dan pinggang. Di saat g berpikir ga ada orang yang mau pake celana g itu, well, di sinilah g melihat ibu-ibu itu memakai celana serupa-tapi-beda-jauh dan perginya pun ke …g perhatikan arah dia berjalan…oh, ke Grand Indonesia. Wow. Semua itu benar-benar hanya masalah rasa percaya diri, kata g dalam hati mengagumi keberanian sang ibu.
Lalu g berpikir, mall bukannya belum buka? Apa dia mau ke bank? Nggak mungkin dia mau kerja. Dia pake kaos merah ketat, sandal-sepatu model Bata, dan tas selempang yang dia sampirkan bersilang. Bisa dipelototin satpam kalo dia masuk ke kantor BCA dengan baju santai gitu, soalnya g pernah pake lengan buntung ke dalam kantornya lalu satpam dan boz-boz di situ udah kaya mau tendang g keluar. G juga memperhatikan gaya jalannya yang mengingatkan g pada temen nyokap g yang bener-bener…sangar. Akhirnya g mengambil kesimpulan bahwa dia mau ke bank. Dan g pun membayangkan dia sebagai seorang ibu yang anak-anaknya sudah berangkat ke sekolah dan dia memiliki waktu untuk ngurusin berbagai masalah financial, termasuk simpanan rahasia yang wajib dimiliki semua ibu rumah tangga…
Kemudian, g diajak salah satu teman kantor g untuk makan di kantin. Katanya mau makan bakmi Bangka enak. G tanya, emang kantin udah buka jam segini? Temen g bilang, semenjak bakmi bangka buka pagi-pagi, semua kios juga ikutan buka pagi-pagi. G pun ikut ke sana, tapi nggak makan sih, soalnya g udah sarapan, sambil membayangkan, keren sekali si mie bangka etos kerjanya.
Begitu g sampe di sana, ternyata kios bakmi bangka itu benar-benar rame, dan sejauh mata memandang, semua orang pada makan mie dan kios yang benar-benar sibuk baru kios si mie bangka. Teman kantor g itu ketemu temennya yang udah duluan makan, temennya bilang, “si enci tu yang ngeracik. Enak tuh.” G dikasi liat itu enci yang berpanas-panasan di tengah kepulan uap kuah mie berteriak-teriak ke anak buahnya. Menurut temennya temen g itu, si enci itu udah punya banyak kios di daerah perkantoran Sudirman. Dan mie bangkanya emang terkenal enak! G perhatikan itu enci…hmmm…keliatannya penyabar… lalu g perhatikan penampilannya dari atas……… ke bawah……………eit, tunggu dulu, itu kan………WEKS! Si ibu-ibu celana! Dan begitulah akhirnya pemilik celana itu berwajah.
Wah, betapa salahnya kesimpulan g. Dia ternyata bukan ibu-ibu biasa yang menunggui bank buka untuk mengatur keuangan suaminya, dia ternyata adalah enci-enci pemilik kios bakmi bangka terkenal! Oh wow.. Really,…g dapet pelajaran berharga hari itu. Don’t judge the book by its pants! Walaupun enci-enci itu nggak berpenampilan seperti ibu-ibu dengan kesuksesan seperti dia pada umumnya, tapi bukan berarti dia bukan seseorang yang adalah dia sekarang. Halah. Kalimat g makin lama makin terpuntir-puntir. Yah, pokoknya keren dhe tu enci! Dan maksud g bukan celananya.
2016 China Boardgames Rotation Selling
10 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar